Pecinta Alam Kabupaten Buol VS Adrev dan Mata Angin

indonesiasatu, 30 Aug 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

Buol - Organisasi pencinta alam di Indonesia sudah ada sekitar tahun enam puluhan. Sampai sekarang berkembang pesat tidak pernah sepi, pada tahun 2010 terdata sekitar dua ribu organisasi pencinta alam.

Seiring bertambahnya organisasi pencinta alam, prestasi tambah meningkat, akan tetapi banyak yang tidak mengerti asal usul pencinta alam itu sendiri.

Seperti kejadian yang dilakukan oleh Organisasi Adventure Revolusi (Adrev) dan Organisasi Mata Angin Buol,  saat menggelar pendidikan keanggotaan dialam bebas tidak memiliki standar oprasional prosedur sehingga sejumlah peserta yang ikut pada kegiatan tersebut mengalami kerasukan sampai salah seorang peserta dirujuk kerumah sakit jiwa Mamboro dikota Palu.

Menurut mantan ketua umum Kelompok pecinta alam Wallacea Ruly mengatakan, aktifitas organisasi Adrev dan Mata Angin itu dengan tujuan dan orientasi yang tidak jelas arahnya. Di mana dalam pelaksanaannya dibumbui dengan aksi hura-hura, dalam prilakunya organisasi tersebut penuh dengan hedonis lebih menjadikan alam sebagai media pemuas nafsu dalam mengekspresikan luapan emosinya, "mengenai kejadian adanya peserta yang sampai masuk rumah Sakit Jiwa Mamboro Palu, saat mengikuti pendidikan lapangan di organisasi Mata Angin, korlap kegiatan sekaligus pendiri organisasi Adrev juga Mata Angin inisial (Py) segera dan harus mempertanggung jawabkan kejadian tersebut, kedua organisasi tersebut bukan  organisasi pecinta alam" jelas ruly

Ditempat terpisah menurut Hardi efendi anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Pogogul Stisipol Ypp-Mujahidin Buol menjelaskan kepada media Indonesiasatu.co.id jumat (30/8/19), kedua organisasi tersebut bukan bagian dari Keluarga Besar Pecinta Alam,"keberadaan organisasi tersebut sampai dengan mereka berani melakukan pendidikan di alam bebas tanpa adanya SOP dan menimbulkan satu orang peserta dirujuk ke rumah sakit jiwa, saya bersama seluruh komunitas pecinta alam yang ada di Kab. Buol, menegaskan bahwa organisasi Adrev dan Mata Angin bukan bagian dari komunitas pecinta alam yang ada di Kabupaten Buol, jangan sampai pemikiran masyarakat Buol meganggap kegiatan tersebut adalah kegiatan pecinta alam, saya tekankan itu bukan kegiatan organisasi pecinta alam Buol" terang Hardi

Setelah mendengar kejadian tersebut tambahnya, seluruh komunitas Pecinta Alam Kab. Buol berkumpul dan menggelar pertemuan yang dihadiri sejumlah senior senior pecinta alam membahas tentang kejadian yang tidak mengenakkan tersebut, jauh hari sebelumnya komunitas pecinta alam Buol pernah memberikan tuguran kepada organisasi Adrev dan Mata Angin untuk tidak mengakugaku bagian dari Pecinta alam Kab.Buol, "jumlah organisasi pecinta alam di Buol yang aktif saat ini hanya 10 lembaga, pada pertemuan tersebut kamipun mengundang organisasi Adrev dan Mata Angin untuk segera mengkelarifikasi dan meminta maaf secara lisan maupun tulisan, karena sudah mencoreng nama baik pecinta alam Kab. Buol, surat peryataan mereka sudah ada ditangan kami ditanda tangani di atas materai" tegasnya

Sementara menurut ketua Mapala Pogogul yang baru menjabat dua hari yang lalu Santi menambahkan, Hakekat pencinta alam itu sudah banyak bergeser dari hakekatnya, dan tidak di terapkan pada kehidupan sehari-hari. Padahal seharusnya mereka yang masuk organisasi pencinta alam harus mempunyai poin, inti dari kode etik pecinta alam itu adalah soal kesadaran tentang alam dan upaya untuk mencintai alam, berarti pula mencintai Sang Pencipta melalui kegiatannya tersebut. tutup Santi***

(Fahmi Bento)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu
Media Redaksi

FAHMI

fahmi.journalist.id